Makalah Korelasi antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan
![]() |
Korelasi antara Al-quran dan Ilmu pengetahuan |
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Menurut kamus besar bahas Indonesia, pengertian ilmiah adalah segala sesuatu yang
bersifat keilmuwan, atau memenuhi syarat atau kaidah ilmu pengetahuan. Banyak sekali ilmuwan islam dengan karya-karya mereka yang besar, yang pengaruh hasil karya ilmiahnya masih dirasakan hingga berabad-abad kemudian di dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Eropa. Para cendikiawan Barat mengakui bahwa Jabir Ibnu Hayyan (721-815) adalah orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya dalam bidang alkemi yang kemudian oleh ilmuwan Barat diambil alih serta dikembangkan menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai ilmu kimia. Sebab Jabir yang namanya dilatinkan menjadi Geber adalah orang pertama yang meneliti zat-zat kimia dan mengklasifikasikannya. Di dalam sejarah ilmu pengetahuan yang ditulis oleh parea sarjana Eropa disebutkan bahwa Muhammad Ibnu Zakaria Ar-Rozi (865-925) telah menggunakan alat-alat khusus untuk melakukan proses-proses yang lazim dilakukan ahli kimia.
Beberapa orang beranggapan bahwa lenyapnya kemampuan umat Islam di bidang ilmu pengetahuan di sebabkan oleh hancurnya sarana perkembangan ilmu dan perpustakaan karena mengamuknya tentara Mongol yang meludeskan Bagdad serta dihancurkannya kekuatan umat di Spanyol dan terbunuhnya banyak ilmuwan dalam peperangan itu.
B. Penafsiran Ilmiah Al-Quran
Al-Quran Al-Karim, yang merupakan sumber utama ajaran Islam, berfungsi sebagai “petunnjuk ke jalan yang sebaik-baiknya” (QS 17: 9) demi kabahagian hidup manusia di dunia dan akhirat. Petunjuk-petunjuk tersebut banyak yang bersifat umum dan global, sehingga penjelasan dan penjabarannya dibebankan kepada Nabi Muhammad saw. (QS 16:14; 4:105, dan sebagainya).
Dalam rangka pembuktian tentang kebenaran Al-Quran, wahyu ilahi ini telah mengajukan tantangan kepada siapa pun yang meeagukannya untuk menyusun “semisal” Al-Quran. Tantangan tersebut datang secara bertahap:
a) Seluruh Al-Quran (QS 17: 88; 52: 34).
b) Sepuluh surah saja dari 144 surah (QS 11: 18).
c) Satu surah saja (QS 10: 38).
d) Lebih kurang semisal satu surah saja (QS 2: 23)
Arti semisal mencakup segala macam aspek yang teradapat dalam Al-Quran, salah
satu dintaranya adalah kandungannya yang antara lain berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang belum dikenal pada masa turunnya.
Corak penafsiran ilmiah ini telah lama dikenal. Benihnya bermula pada masa Dinasti Abbasiyah, khususnya pada masa pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun (w.853 M) akibat penerjamahan kitab-kitab ilmiah. Namun, agaknya tokoh yang paling gigih mendukung ide tersebut adalah Al-Ghazali (w.1059-1111 M) yang secara panjang lebar dalam kitabnya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din dan Jawahir Al-Quran mengemukakan alasan-alasan untuk membuktikan pendapat itu. Al-Ghazali mengatakan bahwa : “Segala macam ilmu pengetahuan, baik yang terdahulu (masih ada atau telah punah), maupun yang kemudian, baik yang telah diketahui meupun belum, semua bersumber dari Al-Quran Al-Karim.
Fakhruddin Al-Razi (1290 M) walaupun tidak sepenuhnya sependapat denga Al-Ghazali. Namun, kitab tafsirnya Mafatihul Al-Ghayb dipenuhi dengan pembahasan ilmiah menyangkut filsafat, teologi, ilmu alam, astronomi, kedokteran dan sebagainya. Sampai-sampai kitab tafsirnya tersebut dinilai secara berlebihan sebagai mengandung segala sesuatu kecuali tafsir.
Di lain sisi, Al-Syathibi merupakan tokoh yang paling gigih menentang sikap di atas secara berlebih-lebihan pula, sehingga ia mengatakan bahwa “Al-Quran tidak diturunkan untuk meksud tersebut,” dan bahwa”Seseorang dalam rangka memahami Al-Quran, harus membatasi diri menggunakan ilmu-ilmu bantu pada ilmu-ilmu yang dikenal oleh masyarakat Arab pada masa turunnya Al-Quran. Siapa yang berusaha memahaminya dengan menggunakan ilmu-ilmu bantu selainnya, maka ia akan sesat atau keliru dan mangatasnamakan Allah da Rasul-Nya dalam hal-hal yang tidak pernah dimaksudkannya.
Pendapat kedua tokoh yang memiliki reputasi tinggi di bidang ilmu keislaman dan yang bertolak belakang itu, masing-masing mempunyai pendukung hingga sekarang ini. Untuk mendudukkan persoalan di atas pada proposisinya yang benar, perlu kiranya ditinjau korelasi antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan.
Korelasi antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan
Al-Quran sebagai kitab petunjuk yang memberikan petunjuk kepada manusia untukkebahagiaan hidupnya di dunia dan akhirat dalam hubungannya dengan ilmu pengetahuan adalah mendorong manusia seluruhnya untuk mempergunakan akal pikirannya serta menambah pengetahuannya sebisa mungkin. Kemudian juga menjadikan observasi atas alam semesta sebagai alat untuk percaya kepada setiap penemuan baru. Oleh karena itu kandungan Al-Quran tidak hanya berkaitan dengan hukum-hukum keagamaan, tetapi juga banyak berkaitan dengan fenomena alam. Semua ayat tersebut pada intinya mengajak manusia untuk mengenal dan mengagungkan Allah SWT.
Perkembangan hidup manusia mempunyai pengaruh yang sangat terhadap perkembangan akal pikirannya. Ini juga berarti mempunyai pengaruh dalam pengertian terhadap ayat-ayat Al-Quran. Dalam abad pertama Islam, para ulama sangat berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Quran. Bahkan sebagian diantara para ulama, bila dintaya mengenai satu ayat, mereka tidak memberi jawaban apa pun.
Membahas hubungan antara al-Quran dengan ilmu pengetahuan bukan dinilai dari banyaknya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang tersimpul di dalamnya, dan bukan pula dengan menunjukkan kebenaran teori-teori ilmiah seperti teori tentang angkasa luar, atom dan molekul, ilmu fisika dan kimia, dan sebagainya. Akan tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya menghalangi kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah suatu ayat al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mapan?
Dalam Al-Quran ditemukan kata-kata “ilmu” dalam berbagai bnetuknya yang terulang sebanyak 854 kali. Di samping itu, banyak pula aya-ayat Al-Quran yang menganjurkan untuk menggunakan akal pikiran, penalaran, dan sebagainyanya. Terdapat juga tuntutan-tuntutan antara lain:
1. Jangan bersikap terhadap sesuatu tanpa dasar pengetahuan (QS 17: 36), dalam arti tidak menetapkan sesuatu kecuali benar-benar telah mengetahui duduk persoalan (QS 36: 17), atau menolak sebelum ada pengetahuan (QS 10: 39).
2. Jangan menilai sesuatu karena faktor ekstren apa pun walaupun dalam pribadi tokoh yang paling diagungkan.
Ayat-ayat semacam inilah yang mewujudkan iklim ilmu pengetahuan dan yang telah
melahirkan pemikir-pemikir dan ilmuwan-ilmuwan Islam dalam berbagai disiplin ilmu. “Tiada yang lebih baik dari suatu kitab akidah (agama) menyangkut bidang ilmu kecuali anjuran untuk berfikir, serta tidak menetapkan suatu ketetapan yang menghalangi umatnya untuk menggunakan akalnya atau membatasinya menambah pengetahuan selama dan dimana saja ia kehendaki. Inilah korelasi pertama dan utama antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan.
Berfikir secara modern, sesuai dengan keadaan zaman dan tingkat pengetahuan seseorang tidak berarti menafsirkan Al-Quran secara spekulatif atau terlepas dari kaidah-kaidah penafsiran yangtelah disepakati oleh para ahli bidang ini. Nah, kaitan prinsip-prinsip dalam penafsiran ilmiah terhadap
ayat-ayat Al-Quran membawa kita kepada, paling tidak tiga hal yang perlu digarisbawahi, yaitu:
1) Bahasa
Sebagai contoh, kata ‘alaq (QS 96: 2) tidak mutlak dipahami dengan “darah yang
membeku”, karena arti tersebut bukan satu-satunya yang dikenal oleh masyarakat Arab apada masa pra-Islam atau masa turunnya Al-Quran. Masih ada lagi arti lain seperti “sesuatu yang bergantung atau berdempetan”. Dari sini penafsiran kata itu dengan inplantasi, seperti apa yang dikemukakan oleh embriolog ketika membicarakan proses kejadian manusia, tidak dapat ditolak.
Muhammad ‘Abduh berpendapat bahwa adalah lebih baik memahami arti kata-kata dalam redaksi satu ayat, dengan memperhatikan pengguanaan Al-Quran terhadap kata tersebut dalam berbagai ayat dan kemudian menetapkan arti yang paling tepat dari arti-arti yang digunakan Al-Quran itu.
2) Konteks antara Kata atau Ayat
Memahami pengertian satu kata dalam rangkaian satu ayat tidak dapat dilepaskan dari
konteks kata tersebut dengan keseluruhan kata-kata dalam redaksi ayat tadi. Demikian pula hubungan antara satu ayat dan ayat yang lain. Sebelum dinyatakan bahwa ayat 88 Surah Al-Naml, ...dan engkau lihat gunung-gunung itu kamu sangka tetap pada tempatnya, padahal iya berjalan sebagaimana jalannya awan..., mengemukakan tentang “teori gerakan bumi, baik mengenai peredarannya mengelilingi matahari maupun gerakan lapisan pada perut bumi”, terlebih dahulu harus dipahami konteks ayat ini dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya dan dibuktikan bahwa keadaan yang dibicarakan adalah keadaan di bumi kita sekarang ini, bukan kelak di hari kemudian.
3) Sifat Penemuan Ilmiah
Hasil pemikiran seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lian, perkembangan
ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya. Perkembangan ilmu pengetahuan sudah sedemikian pesatnya, sehingga dari faktor ini saja pemahaman terhadap redaksi Al-Quran dapat berbeda-beda.
Namun perlu kiranya digarisbawahi bahwa apa yang dipersembahkan oeh para ahli dari berbagai disiplin ilmu, sangat bervariasi dari segi kebenarannya. Nah, bertitik tolak dari prinsip “larangan menafsirkan Al-Quran secara spekulatif”, maka penemuan-penemuan ilmiah yang belum mapan tidak dapat dijadikan dasar dalam menafsirkan Al-Quran.
Seseorang bahkan tidak dapat mengatasnamakan Al-Quran terhadap perincian penemuan ilmiah yang tidak dikandung oleh redaksi ayat-ayatnya, karena Al-Quran seperti yang dikemukakan dalam pembahasan semula. Tidak memerinci seluruh ilmu pengetahuan, walaupun ada yang berpendapat bahwa Al-Quran mengandung pokok-pokok segala macam ilmu pengetahuan.
BAB III
PENUTUP
Melihat kompleksnya permasalahan Al-Quran dan ilmu pengetahuan, di mana dibutuhkan pengetahuan bahasa dengan segala cabang-cabangnya serta pengetahuan menyangkut berbagai bidang ilmu pengetahuan yang diunkapkan oleh ayat-ayat Al-Quran, maka sudah pada tempatnya jika permasalahan dan penafsirannya tidak hanya dimonopoli oleh sekelompok atau seorang ahli dalam suatu bidang tertentu saja. Tetapi hendaknya merupakan usaha bersama dari berbagai ahli dalam berbagai bidang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Balquni Achmad, Al Quran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Yogyakarta: PT. Dana BhaktiPrima Yasa,1995
Shihab Quraish, Membumikan Al-Quran, Bandung: PT. Mizan Pustaka,2013
Mustabsyirah,dkk, Tafsir, Banda Aceh: Bandar Publishing,2009
Post a Comment for "Makalah Korelasi antara Al-Quran dan Ilmu Pengetahuan"
Berikan Saran beserta komentar.