MAKALAH PENTINGNYA TAZKIYATUN NAFS
KATA PENGANTAR..................................................................................................... 1
DAFTAR ISI................................................................................................................... 2
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah......................................................................................... 3
B. Tujuan Penulisan.................................................................................................... 3
BAB II: PEMBAHASAN
A. PENTINGNYA TAZKIYATUN NAFS................................................................... 4
B. HAKEKAT TAZKIYATUN NAFS......................................................................... 6
C. WASILAH TAZKIYATUN NAFS......................................................................... 7
D. TENTANG KEJAHATAN HAWA NAFSU............................................................ 9
E. TENTANG MEMERANGI HAWA NAFSU.......................................................... 11
F. PERSUCIAN JIWA................................................................................................ 12
BAB III: KESIMPULAN............................................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang diberikanNya, akal dan nafsu. Nafsu ialah istilah keislaman yang digunakan dalam Al-quran dan sunnah ia menjadi istilah dengan arti khas budaya keislaman.
Untuk mengenal posisi hawa nafsu dalam jiwa dan dan perannya dalam kehidupan manusia. Kita mengetahui bahwa Allah SWT telah melengkapi manusia dengan beberapa sumber gerak dan kesadaran diantaranya.
Fitrah, Al-Iradah, Dhamir Qalb, Al-hawa nafsu sering kali menyelimuti hati manusia, disitulah manusia harus mencari amalan-alaman baik untuk memerangi nafsu-nafsu buruk yang ada didalam hatinya. Karena hawa nafsu adalah faktor terkuat yang menggerakan hati manusia. Buktinya adalah sejarah peradaban jahiliah yang telah mencakup bagian terbesar Sejarah danGeografi bumi.
Pelipat gandaan tuntutan dan desakan hawa nafsu berbanding lurus dan pemenuhan yang dilakukan manusia, dalam pada itu, sebagai konsekwensi logisnya. Kontrol manusia terhadap hawa nafsu berkurang.
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui dan mendalami agar jiwa hal senantiasa terjaga dari nafsu buruk.
2. Agar hati terpelihara dari sifat-sifat tercela.
3. Bias membedakan pembagian-pembagian nafsu.
4. Agar kita dalam penyucian diri untuk bersih dalam beribadah kepada-Nya.
5. Bisa menerapkan dan mempraktekkan perilaku tanpa nafsu jahat dalam kehidupan sehari-hari.
BAB II
PEMBAHASAN
Tazkiyah, secara bahasa (harfiah) berarti Tathahhur, maksudnya bersuci. Seperti yang terkandung dalam kata zakat, yang memiliki makna mengeluarkan sedekah berupa harta yang berarti tazkiyah (penyucian). Karena dengan mengeluarkan zakat, seseorang berarti telah menyucikan hartanya dari hak Allah yang wajib ia tunaikan.
Salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa salam adalah untuk membimbing umat manusia dalam rangka membentuk jiwa yang suci. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Artinya:
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata". (Al-Jumu'ah: 2).
Dengan demikian, seseorang yang mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di hari akhir hendaknya benar-benar memberi perhatian khusus pada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia harus berupaya agar jiwanya senantiasa berada dalam kondisi suci. Kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke dunia ini tak lain adalah untuk menyucikan jiwa manusia. Ini sangat terlihat jelas pada jiwa para sahabat antara sebelum memeluk Islam dan sesudahnya.
Sebelum mengenal Al-Islam jiwa mereka dalam keadaan kotor oleh debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme suku), dendam, iri, dengki dan sebagainya. Namun begitu telah disibghah (diwarnai) oleh syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW, mereka menjadi bersih, bertauhid, ikhlas, sabar, ridha, zuhud dan sebagainya.
Keberuntungan dan kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia men-tazkiyah dirinya. Barangsiapa tekun membersihkan jiwanya maka sukseslah hidupnya. Sebaliknya yang mengotori jiwanya akan senantiasa merugi, gagal dalam hidup. Hal itu diperkuat oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan sumpahNya sebanyak sebelas kali berturut-turut, padahal dalam Al-Qur'an tidak dijumpai keterangan yang memuat sumpah Allah sebanyak itu secara berurutan. Marilah kita perhatikan firman Allah sebagai berikut:
Artinya:
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan malam bila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penciptaannya (yang sempurna), maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya".(Asy-Syams: 1-10).
Dalam ayat yang lain juga disebutkan bahwa nantinya harta dan anak-anak tidak bermanfaat di akhirat. Tetapi yang bisa memberi manfaat adalah orang yang menghadap Allah dengan Qalbun Salim , yaitu hati yang bersih dan suci.
Firman Allah:
"yaitu di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih". (Asy-Syu'ara':88-89).
B. HAKEKAT TAZKIYATUN NAFS
Secara umum aktivitas tazkiyatun nafs mengarah pada dua kecenderungan, yaitu
Membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela, membuang seluruh penyakit hati.
Menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji.
Kedua hal itu harus berjalan seiring, tidak boleh hanya dikerjakan satu bagian kemudian meninggalkan bagian yang lain. Jiwa yang cuma dibersihkan dari sifat tercela saja, tanpa dibarengi dengan menghiasi dengan sifat-sifat kebaikan menjadi kurang lengkap dan tidak sempurna. Sebaliknya, sekedar menghiasi jiwa dengan sifat terpuji tanpa menumpas penyakit-penyakit hati, juga akan sangat ironis. Tidak wajar. Ibaratnya seperti sepasang pengantin, sebelum berhias dengan beragam hiasan, mereka harus mandi terlebih dahulu agar badannya bersih. Sangat buruk andaikata belum mandi (membersihkan kotoran-kotoran di badan) lantas begitu saja dirias. Hasilnya tentu sebuah pemandangan yang mungkin saja indah tetapi bila orang mendekat akan tercium bau tak sedap.
C. WASILAH TAZKIYATUN NAFS
Wasilah (sarana) untuk men-tazkiyah jiwa tidak boleh keluar dari patokan-patokan syar'i yang telah ditetapkan Allah dan rasulNya. Seluruh wasilah tazkiyatun nafs adalah beragam ibadah dan amal-amal shalih yang telah disyariatkan di dalam Al-Qur'an dan Sunnah. Kita dilarang membuat wasilah-wasilah baru dalam menyucikan jiwa ini yang me-nyimpang dari arahan kedua sumber hukum Islam tersebut. Misalnya seperti yang dilakukan oleh beberapa penganut kejawen, dimana dalam membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs) mereka mela-kukan puasa pati geni (puasa terus menerus sehari semalam/wishal) sambil membaca sejumlah mantra. Ada lagi yang mensyariatkan mandi di tengah malam atau berendam di sungai selama beberapa waktu yang ditentukan. Cara-cara bid'ah semacam ini jelas tidak bisa dibenarkan dalam Islam.
Sesungguhnya rangkaian ibadah yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya telah memuat asas-asas tazkiyatun nafs dengan sendirinya. Bahkan bisa dikatakan bahwa inti dari ibadah-ibadah seperti shalat, shaum, zakat, haji dan lain-lain itu tidak lain adalah aspek-aspektazkiyah. Shalat misalnya, bila dikerjakan secara khusyu', ikhlas dan sesuai dengan syariat, niscaya akan menjadi pembersih jiwa.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berikut:
Abu Hurairah radhiyallaahu anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah n bersabda:"Bagaimanakah pendapat kamu kalau di muka pintu (rumah) salah satu dari kamu ada sebuah sungai, dan ia mandi daripadanya tiap hari lima kali, apakah masih ada tertinggal kotorannya? Jawab sahabat: Tidak. Sabda Nabi: "Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya dosa-dosa".
(HR Al-Bukhari dan Muslim)
Dari hadits di atas nampak sekali bahwa misi utama penegakan shalat adalah menyangkut tazkiyatun nafs. Artinya, dengan shalat secara benar (sesuai sunnah), ikhlas dan khusyu', jiwa akan menjadi bersih, yang digambarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti mandi di sungai lima kali. Sebuah perumpamaan atas terhapusnya kotoran-kotoran dosa dari jiwa. Secara demikian, bisa kita bayangkan kalau ibadah shalat ini ditambah dengan shalat-shalat sunnah. Tentu nilai kebersihan jiwa yang diraih lebih banyak lagi.
Demikian pula masalah shaum (puasa). Hakekat puasa yang paling dalam berada pada aspek tazkiyah. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam:
"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum".
(HR Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya)
Dalam hadits yang lain disebutkan:
"Adakalanya orang berpuasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga".
(HR Ahmad)
Ini menunjukkan betapa soal-soal tazkiyatun nafs benar-benar mewarnai dalam ibadah puasa, sehingga tanpa membuat-buat syariat baru sesungguhnya apa yang datang dari syariat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bila diresapi secara mendalam benar-benar telah mencukupi.
Hal yang sama dijumpai pada ibadah qurban. Esensi utama qurban adalah ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berarti soal pembersihan jiwa dan bukan terbatas pada daging dan darah qurban.
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
Artinya:
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
(QS.Al-Hajj: 37)
Kalau diteliti lagi masih banyak sekali ibadah dalam syariat Islam yang muara akhirnya adalah pembersihan jiwa. Dengan mengikuti apa yang diajarkan syariat, niscaya seorang muslim telah mendapatkan tazkiyatun nafs. Contohnya adalah para sahabat Rasulullah. Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan zaman kenabian dan masih bersih pemahaman agamanya, karenanya mereka memiliki jiwa-jiwa yang suci lantaran ber-ittiba' pada sunnah Rasul dan tanpa menciptakan cara-cara bid'ah dalam tazkiyatun nafs. Mereka mendapatkan kesucian jiwa tanpa harus menjadi seorang sufi yang hidup dengan syariat yang aneh-aneh dan njlimet (rumit).
Bagi seorang muslim, ia harus berupaya menggapai masalah tazkiyatun nafs dari serangkaian ibadah yang dikerjakannya. Artinya, ibadah yang dilakukan jangan hanya menjadi gerak-gerak fisik yang kosong dari ruh keimanan dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sebaliknya, ibadah apapun yang kita kerjakan hendaknya juga bernuansa pembersihan jiwa. Dengan cara seperti inilah, insya Allah kita bisa mencapai keberuntungan.
D. TENTANG KEJAHATAN HAWA NAFSU
kita semua tentu mengerti,bahwa nafsu yang selalu memerintah kejahatan (al ammarah bis su’) adalah lebih berbahaya dari pada iblis:
Artinya:
Musuhmu yang paling jahat adalah hawa nafsumu sendiri yang berada diantara kedua sisimu.
setan bisa menjadi kuat menguasai kita disebabkan karena pertolongan nafsu dan segala kesenangannya. untuk itu jaganlah sekali-kali tertipu oleh hawa nafsu, karena semua ajakannya adalah bathil. barng siapa mengikuti perintahnya dan merasa puas dengannya, tentu akan celaka dan terjerumus ke dalam neraka. bagi nafsu tidak ada hal-hal yang bisa dikembalikan ke arah kebaikan. Dia adalah pangkal segala bencana dan sumber malapetaka. Rasulullah saw. telah menegas kan, bahwa jihad yang paling berat adalah jihad melawan nafsu.
Kita telah memaklumi bahwa, perang menghadapi orang-orang kafir memang sangat berat, tetapi yang sangat berat lagi adalah jihad atau perang melawan hawa nafsu. Mengapa dikatakan lebih berat ? sebab jihad menghadapi adalah bersifat langgeng, tidak pernah berhenti, sedang jihad melawan kafir hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu. Orang yang perang menghadapi orang kafir bisa menglihat musuhnya, tetapi orang yang jihad melawan nafsu sama sekali tidak bisa menglihat musuhnya, yaitu setan.
Jika kita mati dalam pertempuran melawan orang kafir, tentu tercatat sebagai syuhada dan diganjar syurga. Tetapi jika kita mati dibunuh setan, kalah melawan hawa nafsu, niscaya setan akan menyeret kita ke dalam siksan tuhan. Na’udzu billah min dzalik. semoga kita selalu diberi kemenangan di dalam melawan nafsu.
Allah menciptakan malaikat dilengkapi dengan akal, tanpa diberi keinginan. sebaliknya binatang diberi keinginan tanpa diberi akal. Dan yang terakhir bani Adam / anak cucu Adam diberi keinginan di dilengkapi dengan akal. barang siapa keinginan nafsunya mengalahkan akalnya maka binatang lebih baik dari padanya. dan barang siapa akalnya mengalahkan keinginan nafsunya, maka dia lebih baik dari pada malaikat.
Setan mendekati manusia bermaksud untuk membujuk manusia agar mengulangi kejahatan dan mendustakan kebenaran, lain halnya dengan malaikat, ia mendekati manusia bermaksud agar manusia mengulangi kebaikan dan membenarkan kebenaran. Dua ajakan dari malaikat dan setan itu adalah dua macam ilham yang terjadi di dalam hati manusia, satu diantaranya ialah dengan perantaraan setan, sedang yang lain ialah dengan perantaraan malaikat.
Adapun yang terjadi dengan perantaraan malaikat itulah yang disebut “ilham”, dan yang terjadi dengan perantaraan setan dinamakan “godaan (waswasah)”. Sedang hati manusia senantiasa tertarik di antara kedua ajakan tersebut, karena hati manusia menurut fitrahnya yang asli, bisa menerima pengaruh-pengaruh dari setan secara sama, yakni yang satu tidak lebih berat dari pada yang lain, kecuali bila hati manusia telah mengikuti hawa nafsu dan senantiasa menuruti syahwat-syahwatnya. Maka jika demikian, hancurlah manusia. Sebaliknya jika manusia hatinya tidak menuruti hawa nafsu dan tidak mengikuti syahwat-syahwatnya, maka berbahagialah dia. Karena itu marilah kita tingkatkan kewaspadaan kita, dengan senantiasa memohon kepada Allah swt. Semoga kita semua selalu diberi kekuatan dan kemenangan di dalam menghadapi setan.
E. TENTANG MEMERANGI HAWA NAFSU
Sebetulnya dosa kita ini telah menumpuk, penglihatan telah menjadi buta, kelalaian dan kecenderungan kita kepada dunia telah melanda kita. Hati telah menjadi buta, jiwa sudah rusak. Oleh karena itu, kita akan selalu meluap-luap dalam kelezatan, berlomba-lomba menuju kesenangan nafsu dan bersungguh-sungguh dala mengumpulkan harta benda, kita lupa taat kepada Allah dan bermain-main, meninggalkan apa yang sebenarnya menjadi tujuan kita.
Sekarang, rasa cinta di antara kita sudah menjadi karena adanya uang dan atau kepingan dinar. Derajat dan kehormatan hanyalah bagi orang-orang yang kaya dan jutawan. Sedangkan orang yang tegak lagi lurus dalam agamanya dan berpengang teguh pada sunnah Nabi-Nya di antara kita sekarang ini sudah sangat berat dirasakan. Amar ma’ruf nahi mungkar -apabila ada- sudah terasa enggan dan dibenci.
Sesungguhnya Allah swt. Menciptakan kita agar beribadah kepada-Nya. Memberi kita riski yang bagus-bagus agar kita mampu menunaikan syukur kepada-Nya, syukur mana dengan melaksanakan hak-hakNya yang wajib atas kita dengan memerangi hawa nafsu dalam Dzat-Nya, dalam melaksanakan ibdah kepada-Nya dalam menjauhi segala larangan-Nya, dalam menyatakan tauhid dan ikhlas di dalam amal, dalam menyatakan kepanutan kita kepada petunjuk Rasulullah saw. Di dalam mengamalkan kitab-Nya dan sunnah rasul-Nya.
Apabila setiapa insan dari kita ini sudah kehilangan dirinya, dan amalnya sudah menyimpang dari perintah dan larangan syariat tiada tampak kelengahannya dan tidak jelas tempat kembalinya, maka apakah kita bisa menyakinkan iman kita lalu bertawakal kepada Allah, dengan tawakal yang sungguh-sungguh ? apakah kita sudah mempunyai sifat dengan hakikat ibadah lalu kita mengikhlaskan amal hanya karena Allah ? dan kita beribadah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh dan mengikuti keridlaan-Nya ? apakah yang kita lakukan sekarang ini sudah di ridhai oleh orang-orang mukmin ? bukankan diantara kita sudah banyak yang meremehkan agamanya ? mereka meremehkan kewajiban-kewajiban agama yang paling besar yaitu: shalat, yang shalat itu sendiri adalah merupakan tiang agama, dan pula shalat merupakan hubungan antara hamba dengan tuhannya.
Bukanlah rasa malu adalah salah satu dari cabang agama kita, yang sekarang ini kebanyakan dari kaum muda-mudi masing-masimg sudah menyerupai dengan yang lain? Wanita-wanita berpakaian dan bergaya seperti halnya laki-laki, demikian pula sebaliknya. Bukankah wanita-wanita sekarang sudah tidak mempunyai perasaan malu dan sudah tidak sungkan –sungkan lagi keluar bersama –sama dengan kaum laki-laki lain. Mereka malang melintang di jalan-jalan dengan menggunakan pakain yang rendah lagi hina ? mereka mengobarkan api fitnah dan menarik berbagai macam bencana yang akan menimpa pada diri mereka sendiri dan juga orang lain.
Apakah agama mengajarkan bila seorang muslim melihat saudaranya yang muslim melakukan kemungkaran lalu ia tidak mau merubahnya atau tidak mau melarang / mencegah-nya dari kemungkaran itu dan kemudian menyuruhnya untuk melakukan kebaikan dan menakutkannya akan adanya siksa Allah ?
Oleh karena itu, takutlah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah , kajilah kitab tuhanmu dan ikutilah sunnah nabimu. Beramallah untuk akhiratmu senyampang masih ada waktu, sebelum datang penyesalan atas keteledoranmu di masa-masa lampau tidak adanya kesempatan bagimu untuk bertaubat dan istighfar.
F. PERSUCIAN JIWA
Persucian jiwa ada 3 macam: yaitu
1) Jiwa (nafsu amarah bis suk) jiwa yang selalu melakukan kemaksiatan kepada Allah.
Contohnya: orang yang tidak memiliki iman kepada Allah dan tidak mau menjalankan perintah Allah. Disebut kafir.
2) Jiwa (nafsu lawwamah) jiwa yang memiliki kecenderungan baik dan buruk.
Contohnya: orang munafik, fasik, muslim.
3) Jiwa (nafsu muthmainnah) jiwa yang memiliki kecenderungan baik selalu.
Contohnya: orang muttaqin, mukmin, ikhlas.
Cara mensucikan hati ialah:
Memperbanyak zikrullah untuk menghindari sombong.
Shalat fardhu sebagai media ketenangan jiwa, malas.
Puasa sebagai media melatih sabar, adil.
Zakat sebagai media membuang penyakit kikir, bakhil.
Haji sebagai media, sabar, taa’wun ( tolong-menolong), tasamuh (tenggang rasa).
BAB III
KESIMPULAN
Hawa nafsu adalah tangga menuju kesempurnaan manusia juga dapat memerosotkan manusia menuju kemenangan. Allah memuliakan manusia dengan iradah setiap langkah yang digerakkannya, berdasarkan iradah dan ikhtiar. Nilai perbuatan manusia berbanding lurus dengan usaha dicurahkan dalam kenyataannya kepada perintah Allah.
Sekian banyak orang seakan memuliakan hawa nafsunya dengan cara memenuhi setiap ajakannya, padahal dengan begitu, dia hanya akan merendahkan jiwanya sendiri, sebaliknya banyak juga orang yang bersikap keras, sinis, dan acuh tak acuh akan tuntutan hawa nafsunya. Padahal begitulah cara yang sebenarnya untuk memuliakan diri manusia.
Post a Comment for "MAKALAH PENTINGNYA TAZKIYATUN NAFS"
Berikan Saran beserta komentar.